CDP Academic Data Package

https://www.cdp.net/en-US/Results/Pages/academic-data.aspx

Advertisements

http://sciencebasedtargets.org/companies-taking-action/

Companies that have committed to setting science-based targets:

Acciona
Aditya Birla Chemicals
Alpro
ASICS
AstraZeneca
Atos SE
Australian Ethical Investment
Autodesk
Avery Dennison
AXA Group
BanColombia
Bank Australia
Bank J. Safra Sarasin AG
BillerudKorsnäs AB
Broad Group
Brown-Forman Corporation
BT Group
Caesars Entertainment
Carrefour
China Steel Corporation
CLP Holdings Limited
Coca-Cola HBC
Colgate Palmolive Company
Commerzbank AG
Compass Group USA
Correos (Grupo SEPI)
Coway Co Ltd
CTT – Correios de Portugal SA
Danone
Delta Electronics, Inc
Dentsu Inc.
Diageo Plc
EDP – Energias de Portugal
Eneco
Exxaro
Gamesa Corporación Tecnológica
Gas Natural Fenosa
Gestamp
Givaudan SA
GlaxoSmithKline
Green Coast Rubbish Inc.
GreenStep Solutions Inc
H&M Hennes & Mauritz AB
Hewlett Packard Enterprise
Honda Motor Company
Iberdrola SA
ICA Gruppen AB
Ikea
Infigen Energy
ING
International Web exPress Inc.
KAO Corporation
Kering
Kingfisher
Konica Minolta, Inc.
Koninklijke KPN NV (Royal KPN)
L’Oréal
Mars, Incorporated
Mills Office Productivity
Morgan Sindall Group plc
MVV Energie AG
National Express Group
National Grid
Natura
Nestlé
Nissan Motor Co., Ltd.
Novartis
Novex Delivery Solutions
Origin Energy
Panalpina
Philip Morris International (PMI)
Pick ‘n Pay Stores Ltd
Principal Financial Group
Proximus
Pukka Herbs Ltd
PUMA SE
Recollective
RELX Group
Renault
Ricoh Co., Ltd.
Royal Philips
Safaricom Limited
Senior plc
Sharp Six Services
Sodexo
Sofidel
Sopra Steria Group
SSE plc
Stora Enso
Suez Environnement
TAV Airports
Teachers Mutual Bank
Tennant Company
Tiger Brands
Tongaat Hulett
Travis Perkins
TSKB
Unilever plc
Unite Students
Walmart Stores
Westpac Banking Corporation
Wipro
Woolworths Holdings Ltd
Xerox Corporation
Yingli Solar
505-Junk

Population Projection Data

Population Projection Data

Data is important for an economist, one of the main ones is population. UN provides a set of projections for the earthling population for the next century (up to 2100). In addition to historical data (1950-2010), several scenarios are explored to estimate the world population growth. The data is also categorized into gender and age, in addition to its country-level detail

Additional document: Population up to 2300!  https://www.un.org/esa/population/publications/longrange2/WorldPop2300final.pdf

Tiara: Kehilangan

Suasana kampus di waktu ini memang ramai; gerombolan demi gerombolan mahasiswa berjalan dan berlari. Sebagian besar meninggalkan area kampus, meski ada pula yang berjalan melawan arus. Seperti Tiara. Dengan setumpuk buku dalam pelukannya, dia melangkahkan kaki dengan gesit mencari celah dan menerobos keramaian kampus sore ini. Tujuannya? Perpustakaan. Ada setumpuk buku yang perlu dikembalikan. Ada pula kerinduan menyusuri rak demi rak buku, melihat-lihat buku yang menarik, membaca sekilas, lalu menimbang-nimbang perlukah buku tersebut dibawa pulang.

“Fyuh, sampai juga,” desah Tiara sesampainya di perpustakaan. Entah kenapa hari ini terasa begitu berat baginya.

“Mau mengembalikan buku, mbak?” tanya petugas di counter pengembalian perpustakaan.

“Iya, mbak,” jawab Tiara sembari menyerahkan setumpuk buku yang dipeluknya.

Petugas di counter pun dengan cekatan memindai bar code yang ada di tiap buku, satu per satu.

“Sudah, mbak,” ucapnya kemudian.

“Terima kasih,” segera Tiara bergerak menuju tangga.

“Hm, baiknya ke mana ya? Lantai 3 lihat-lihat buku fiksi, atau lantai 4 screening bahan bacaan untuk kelas minggu depan?” pikirnya. Tak lama, dia pun memutuskan ke lantai 3, “ga mood gini mana bisa dibawa liat bacaan serius?” alasannya.

Suasana perpustakaan yang tenang memang kesukaan Tiara. Tanpa beban, tanpa ikatan, tanpa gangguan. Damai. Tiara sendiri bukanlah seorang yang sangat hobi membaca. Tetapi kunjungan ke perpustakaan sudah menjadi rutinitas baginya, sebuah oase untuk duduk sejenak, menikmati momen dan menanggalkan jauh-jauh pikiran dan masalah.

Sekitar setengah jam kemudian, Tiara pun sudah mengumpulkan dua buah buku untuk dipinjam. Dia pun melangkah ringan kembali ke lantai dasar. Counter peminjaman segera dia tuju.

“Mau pinjam, mas,” katanya kepada petugas jaga. Dua buah buku pun berpindah tangan untuk sementara.

“Siap, mbak. Silahkan kartu mahasiswanya ditempelkan di sini,” sang petugas mengarahkan Tiara ke card reader dengan tangannya.

Otomatis, Tiara memasukkan kedua tangannya ke saku jaket yang dikenakannya. Sedikit tersentak, dia lalu terdiam sejenak. Tak lama, kembali dirogohkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, kali ini lebih dalam.

“Kartunya ga ada, mbak?” tanya petugas counter peminjaman bersimpati.

Tidak mendengar, Tiara melanjutkan pencariannya ke saku lainnya: depan celana, belakang celana, bahkan kantong kemeja yang dikenakannya. Tidak puas, dia mengeluarkan seluruh isi saku dan kantongnya lalu menaruhnya di counter di hadapannya. Tidak peduli, ditariknya kain sakunya keluar, satu per satu. Diperhatikan dengan seksama.

“Itu kartu mahasiswanya ada, mbak,” ujar petugas jaga menunjuk tumpukan isi saku Tiara di depannya.

Tiara masih tidak bereaksi. Tanpa sadar, dia pun meraba lehernya.

“Kalung itu hilang,” lirihnya.

Catatan: Dr. Ayu dan Kriminalisasi Dokter

Baru saja menelusuri thread “kriminalisasi dokter” di grup FB Perpika. Pembahasannya panjang dan cukup menarik. Kemarin-kemarin cuma liat dari status FB dan twitter saja, tapi ga terlalu minat untuk membaca secara detail. Sekarang pun juga ga mau ngebahas detail sih, cuma mau share beberapa link tulisan yang menarik dari penelusuran thread tersebut.

  1. http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/11/26/defensive-medicine-jawaban-dokter-amerika-terhadap-kasus-dr-ayu-610990.html -> tentang devensive medicine, yang dikhawatirkan akan menjadi pilihan dokter yaitu ‘main safe’ dan terlepas dari kemungkinan diperkarakan. Akibatnya, lama proses dan biaya pengobatan bisa menjadi lebih tinggi.
  2. http://muhadkly.com/2013/11/dokter-bertafakur-ini-bukan-aksi-religius/ -> tanggapan soal demo dokter. Ada 3 poin yang membuat dr. Ayu dianggap bersalah oleh MA, dan jawaban atas pembelaan aksi mogok dokter.
  3. http://www.metahanindita.com/2013/12/konfirmasi-aksi-dokter.html -> tanggapan soal berbagai komentar miring akibat kasus demo dokter. Beberapa tanggapan menjawab berbagai protes masyarakat untuk banyak kasus terkait pelayanan dokter.
  4. http://health.liputan6.com/read/755977/kronologi-penangkapan-dr-hendry-simanjuntak -> sebagai pembelaan atas status DPO dokter. di situ dinyatakan bahwa tidak ada dokter yang ‘kabur’, seperti yang tertera pada link di bawah:
  5. http://www.aktualpost.com/2013/11/27/5807/inilah-kronologi-kasus-malpraktek-dr-ayu-selengkapnya/ -> kronologi kasus.

dan masih banyak lagi. Berhubung saya orangnya pragmatis, agak susah memang ambil stance (posisi) di sini. Well, maybe next time. For now, just wait, see, and learn.

Silent Manga Competitions – Love Letter

Silent Manga Competitions – Love Letter

I just found this link from a friend, one of the young and prospective manga-artists, Sweta. He shared it on his facebook wall since another manga-artist, Alex, just won the award from the competition on the mentioned link. And there I went.

And I was blown up. Not literally, heheh. The competition turns out to be a silence manga, meaning there should be no dialogue AT ALL. And after the first four mangas, I found (more of a guess, actually) that the general theme of those is “Love Letter.” (though not all stories have love letter)  Well, most of the stories follow a simple flow (plot) yet with a very creative story-telling. The limitation put on them just unleashes the creativity to find ways to reach out the readers. Without telling them directly. And I was blown up. More so when knowing that there are 9 (NINE) winners from Indonesia, the highest among the participating countries. YAA HAA!

Ah, it kinda reminds me of one chapter in Bakuman, when the manga prodigy, Eiji, published a full chapter of his popular manga (in a fictional Shonen Jump), Crow, without any word in it.