Posted by: viczhoel | March 31, 2009

Elf dan Islandia

Sebelum mendirikan pabrik peleburan aluminium, Alcoa dengan terpaksa “menunda pekerjaan hingga pakar dari pemerintah memeriksa dengan seksama areal pabrik dan memastikan tidak ada elf–peri–di daerah tersebut.” Nah, bagaimanakah cara mendeteksi elf?

Kekuatan psikis. Kemampuan untuk melihat huldufolk (makhluk gaib) ini tidak bisa dipelajari, seseorang harus terlahir dengan kemampuan ini. Biasanya kemampuan ini dimiliki anak-anak, meskipun sebagian dari mereka kehilangan kemampuan ini selepas usia 8 tahun. Sebuah survey menyebutkan bahwa 54 persen orang Islandia tidak menyangkal keberadaan peri dan 8 persen langsung menyatakan percaya, meskipun hanya 3 persen yang mengaku pernah melihat peri dengan mata kepala sendiri. Peri-peri ini biasa tinggal di bebatuan atau lereng terjal. Kota pelabuhan Hafnarfjordur, dekat Reykjavik, dianggap sebagai tempat tinggal banyak peri. Dan menurut orang Islandia, terdapat minimal 13 tipe peri, sebagian tinggi seperti manusia sementara sebagian hanya beberapa inchi, seperti peri bunga.

Sebagian kisah menyebutkan ‘gangguan’ para peri akibat pembangunan manusia yang mengganggu tempat hunian mereka. Contohnya pada awal 70an, sejumlah kontraktor berusaha memindahkan sebuah batu besar untuk membuat jalan tol di daerah Reykjavik. Seorang clairvoyant (paranormal)–Zophanias Petursson–pun disewa setelah timbul sejumlah kecelakaan kecil. Zophanias pun mengklaim telah berhasil berkomunikasi dengan para peri di daerah tersebut dan mendapatkan persetujuan mereka untuk melanjutkaan pekerjaan tersebut. Meskipun demikian, para peri tidak berhenti sampai di situ: sebuah buldozer mematahkan pipa air yang menuju areal perikanan dan menewaskan ribuan tetasan trout.

Source: How do you find an elf?

Posted by: viczhoel | March 24, 2009

The World’s Most Influential People–TIME Version

I just happen to find yet another interesting website when fun browsed Freakonomics blog. This time it lead me to this, a poll result of TIME 100 most influential people. The blog’s amusing comment was about checking the first and second number of the list. Steven D. Lewitt inquire who are these guys. But I, proud of myself, proclaim that I know one of them. Guess who.

Well, that page tempt me to surf more. Checking the last year’s record of the same award, I report to you that there are five groups of them:

  • Revolutionaries (20 names), e.g. Dalai Lama, Barack Obama, Vladimir Putin, Evo Morales, Kevin Rudd, Anwar Ibrahim
  • Heroes and Pioneers (18 names), e.g. Oprah Winfrey, Brad Pitt&Angelina Jolie, Kaka, Andre Agassi, Aung San Suu Kyi, Tony Blair
  • Scientists and Thinkers (19 names), e.g. Jeff Han, Paul Allen, Mark Zuckerberg, Michael Bloomberg, Nancy Brinker, Michael Griffin
  • Artists and Entertainers (21 names), e.g. Robert Downey Jr., Mariah Carey, George Clooney, Takashi Murakami, Chris Rock, Suze Orman
  • Builders and Titans (22 names), e.g. Steve Jobs, Radiohead, Prince Alwaleed bin Talal, Rupert Murdoch, Indra Nooyi, Steve Ballmer

For the complete review, please refer to this. And if you are wondering how TIME makes this kind of ranking, check this out. Last, are you curious of TIME’s 100 on another floors–best albums, novels, TV shows, movies? You may find this interesting.

Rank of groups based on author’s unfamiliarity: Scientists and Thinkers, Builders and Titans, Artists and Entertainers, Heroes and Pioneers, Revolutionaries. How about you?

Posted by: viczhoel | March 24, 2009

Menelusuri jejak Essay Writer dari Virginia hingga Manila

Kecurangan apa yang pernah Anda lakukan di bangku kuliah? Menyalin tugas teman? Mencontek di saat ujian? Meminta seseorang melakukan tugas Anda? Atau pernahkah terpikir oleh Anda membayar seseorang untuk mengerjakan Tugas Akhir atau paper atau makalah Anda? Jika ya, mungkin Essay Writer bisa menjadi salah satu pilihan Anda.

Chronicle.com melakukan sebuah studi menarik berkaitan dengan tumbuh kembangnya ‘pabrik essay’–perusahaan pembuat essay instan yang cukup banyak tersebar di internet. Cobalah mengetik ‘buy an essay’ di Google dan bisa dilihat berbagai macam pabrik essay yang muncul. Semuanya menawarkan hal yang sama, pembuatan paper sekelas Master bahkan PhD dengan fee mencapai $50 per halaman, tergantung deadline dan tingkat kesulitan. Prosesnya mudah. Tinggal menjelaskan tugasnya seperti apa, butuh berapa lembar, dan kapan dibutuhkan. Lalu masukkan nomer kartu kredit dan voila! paper kan datang sesuai deadline.

Well, penelusuran kisah di balik layar akan memberikan sejumlah kejutan buat Anda. Kejutan pertama adalah kevalidan alamat yang tertera di website. Universal Research Inc. a.k.a. Essay Writer mengoperasikan sejumlah website essay seperti Best Essays,  Rush Essay, Superior Paper, dan Best Term Paper. Berdasarkan website, “US/Canada Headquarter” perusahaan tersebut terletak di Herndon, Virginia. Bahkan dikatakan bahwa kantor pusat tersebut berupa bangunan berlantai tujuh.

Kenyataannya, di alamat tersebut hanya berdiri rumah biasa untuk kalangan suburban. Pemilik rumah itu adalah Victor Guevara, yang sejak membeli rumah itu pada tahun 2004, selalu menerima begitu banyak surat dan pesan yang aneh. Bahkan, dia pernah didatangi oleh polisi yang mendapat komplain dari seseorang di India yang mengaku belum mendapat honor dari Essay Writer. Well, sedikit petunjuk mungkin ada pada Olga Mizyuk, seorang wanita penghuni rumah itu sebelumnya.

Lets continue the story. Jika Anda mencoba menelpon telepon perusahaan tersebut–kapanpun, pagi atau malam hari kerja atau hari libur–seseorang akan selalu menjawab Anda. Mungkin seorang wanita bernama Crystal atau Stephanie. Yang pasti, dia tidak akan mengungkapkan apapun mengenai siapa pemilik perusahaan tersebut atau dimana letaknya. Tetapi dengan sedikit paksaan, Crystal akan menghubungkan Anda langsung dengan seorang manajer bernama Raymond–yang entah mengapa selalu tidak di tempat atau ada janji. Ketika berhasil dihubungi pun, Raymond langsung menutup telepon tanpa menjawab satu pertanyaan pun.

Sedikit titik terang, seorang narasumber yang dirahasiakan mengungkapkan bahwa kantor pusat perusahaan perusahaan tersebut terletak di Kiev, Ukraina. Sedangkan pusat layanan pelanggan terletak di lantai 17 Burgundy Corporate Tower di Makati City, Manila, Philippine. Sebuah ruangan di lantai 16 diisi oleh staf marketing dan website yang salah satu tugasnya adalah memastikan bahwa setiap pencarian google menempatkan perusahaan mereka di list teratas.

Sejumlah penulis essay bekerja di gedung tersebut. Mereka dibayar $1 sampai $3 per halaman, lebih sedikit dibandingkan penulis asal USA, dan hanya sebagian kecil harga penjualan essay tersebut. Essay Writer mengklaim memiliki 200 penulis essay, yang mungkin benar jika memasukkan penulis lepas. Tingkat kemahiran penulis sangat beragam, salah satu yang memiliki level A adalah James Robbins. Buatnya, menulis 10 halaman paper adalah hal yang sangat mudah, 1 jam cukup untuk itu. Salah satu tugas yang pernah ia kerjakan adalah mengenai Christology pada abad kedua dan ketiga. Komentarnya, “Aku bahkan tidak tahu itu apa. Aku harus mengeceknya di Wikipedia terlebih dahulu”

Selengkapnya, disarankan untuk membaca artikel aslinya. Terdapat kisah para penulis dan juga para pemesan. Artikel tersebut juga mencoba membahas mengenai sisi moral atas ‘kecurangan’ tersebut. Di akhir pembahasan, terdapat saran sejumlah profesor untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kecenderungan ke arah tersebut.

My comment after read this article, Perhaps I can build one of these in the future. Indonesia has a lot of market potencies, with her rich students these days. Frankly speaking, some of my college friends have done it before, back to when they were still active as Workshop HME staff. I also almost did it, as if I wasn’t indolent back then.

paper mill

A long time ago, i wrote this with intention to briefly introduce my family here in Ajou University and also practice my english on writing. That was only the first part. There should’ve been another part, i promised that, but i’ve been postponing it for months. Now its time to finish what i’ve started.

To begin with, i’d like to inform u all that today some of those 14 people are already back in Indonesia (Sidum, Megan, Sasha) and 4 others will follow by the end of this month (Jamak, Siti, Tessa, Unggul) Back to the warmth and surrounded by delicious foods. Well, lets get started…

The last person of graduate student team, Qonita. She is my comrade, together we are the second term IT ISIP invitees from Indonesia. We studied Korean and English together (also featuring Tu, a Vietnamese) for four months before enrolled to Ajou University and be accepted as graduate student there. She is focusing on computer vision now, funded by the last IITA Scholarship.

I’ve introduced you with all graduate students here in Ajou University. For the second term, its time for the exchange students.

The first one is Megan, a business-oriented cooking-skilled narcissus-minded humor-loved student of Parahyangan Padjajaran University. With Mike he evolved into dormitory-class chief with some infamous recipes, such as Opor Ayam Kolaborasi. Another achievement he made was being a martial art entertainer in Ajou International Day 2008.

Second, Sasha. She is truly a public relation girl. Marvelous english ability, open and warm personality, great communication skill, plus broad social circle. Being the youngest from all of us, she often quarrelled with Sidum for unimportant trivial things. A consoling sight to see.

Last but not least, the IT ISIP Team. It consists of 4 males and 2 females, 4 informatics and 2 electrical engineers. Lets get closer..

Dina. She shares lots with me. Same university, same class, same major, same final project adviser, even same System Engineering grade (an A from Prof. Jon, what a lifetime achievement TT) We also live next to each other back in Cisitu Baru, Bandung. The only thing i dislike about her, she is better than me. She graduated first with higher GPA, she gets better graduate school, yet she is older (ruuun!!)

Made. A breath-taking dancer! Thanks to him we could show the international audience how sacred a Balinese dance is. He is also very good at singing, sport, and studying. Totally opposite with me. Another information, he will also stay in here Korea to pursue his master degree in Chung Ang University, though we are still not so sure whether he will study or work or do servitude there.

Siti. Frankly speaking, she is the most senior between all invitees. One thing for sure, she totally enjoys her life time here as IT ISIP invitee. A full time access of internet where she can freakingly download, stream, read, watch, and listen all that ‘oriental’ songs, mangas, movies, etc. Her english is a very good, a notable skill i’d like to mention. And the other thing that makes this journey much better for her: she can leave her old workplace and get some relax.

Tessa. Half Korean. He enjoys Korean songs and movies and dramas and TV shows a lot. I do believe that his Korean is the best among us 14 since he must be studying Korean because he loves it, not because he has to, just like the remaining others. He will certainly continue his study here though unfortunately he could not do it right now since he is still struggling with his final project.

Unggul. Another case of me, though I didn’t know it at first. I mean, he is as old as me but we enter the university at the same time, which is 2 years younger than normal. Already graduated, the only thing that prevented him to not apply for Korean University is a chance for better university. I sincerely hope the best for him. Btw, i heard that he is very skillfull at cooking.

Zamak. The undergraduate student other than Tessa. Just like the others, he enjoys his life in Korea (mostly because of the unlimited internet access, i believe) but dislikes the Korean Language Course itself, the one who actually brings us here. Trivial fact, last year he attended an international culture camp (or something) in Gwangju for his paper about Komodo Island. Too bad he didn’t send it over to CISAK.

Well, my homework is finished. By the end of this month, Indonesian student in Ajou will reduce to only 5 students. But a hope is coming from Spring semester exchange students from Parahyangan University. A bird said that there will be 9 or 10 of them. Sadly, the IT ISIP program stopped so no new invitee next semester. Also, two GSIS girls are planned to finish their study and leave Korea perhaps in April. How about a new GSIS student? Some said that there will be one. Lets see…

Posted by: viczhoel | February 17, 2009

Terjemahan Bebas Freakonomics: Sebagian Pengantar

PENGANTAR: SISI TERSEMBUNYI SEGALA HAL

Siapa pun yang hidup di USA pada awal era 90an dapat dimaafkan atas ketakutannya, bahkan jika mereka hanya memperhatikan sekilas berita malam atau koran pagi.

Penyebabnya adalah kriminalitas, yang berkembang pesat tanpa ampun–sebuah grafik yang menggambarkan tingkat kriminalitas di tiap kota di USA dalam dekade terakhir terlihat seperti lereng ski–dan . Kematian oleh senjata api, baik sengaja ataupun tidak, telah menjadi makanan sehari-hari. Begitu pula pencurian mobil, penjualan obat bius, perampokan dan pemerkosaan. Kejahatan dengan kekerasan . Dan keadaan pada saat itu akan menjadi lebih buruk. Jauh lebih buruk. Semua ahli berkata begitu.

Predator super, begitu mereka menyebutnya. Pada masa itu, dia ada dimana-mana. Memandang bengis dari halaman pertama surat kabar-surat kabar. Berjalan congkak melalui laporan-laporan tebal pemerintah. Anak muda kota besar kurus dengan senjata di tangannya dan tanpa suatu apapun di hatinya selain sifat jahat. Mereka ada ribuan, begitu diceritakan, generasi pembunuh yang siap mengacaukan dan memorakmorandakan negara.

Pada tahun 1995 kriminologis James Alan Fox menulis sebuah laporan kepada Jaksa Agung yang dengan suram menggambarkan ramalan peningkatan tingkat pembunuhan oleh remaja. Fox mengajukan dua skenarion, optimistis dan pesimistis. Dalam skenario optimistis, dia meyakini bahwa tingkat pembunuhan oleh remaja akan meningkat 15% pada dekade yg akan datang; dalam skenario pesimistis, persentase tersebut menjadi lebih dari dua kali lipat. “Akan datang gelombang kriminalitas yang sangat parah,” katanya, “sedemikian sehingga tahun 1995 akan tampak seperti masa-masa tenang yang begitu indah”

Tetapi bukannya semakin menjadi-jadi, tingkat kriminalitas malah menurun. Terus jatuh hingga titik tertentu. Penurunan tingkat kriminalitas sangat mengejutkan, ditinjau dari berbagai sisi. Kejadian ini muncul di mana-mana, berbagai jenis kriminalitas menurun di tiap bagian negara. Stabil, dengan penurunan yang meningkat dari tahun ke tahun. Dan benar-benar tidak terduga–terutama oleh para ahli yang memprediksi sebaliknya.

Keadaan berbalik dengan angka yang sangat mengherankan. Tingkat pembunuhan oleh remaja, bukannya naik 100% atau bahkan 15% sesuai ramalan James Alan Fox, malah turun sebesar lebih dari 50% dalam lima tahun. Pada 2000 tingkat pembunuhan secara keseluruhan telah jatuh pada titik terendahnya dalam 35 tahun. Begitu pula tingkat kriminalitas lainnya, dari penyerangan sampai pencurian mobil.

Meskipun para ahli telah gagal meramalkan penurunan kriminalitas–yang dalam kenyataannya jauh dibawah prediksi menakutkan mereka–mereka langsung berlomba-lomba menjelaskan fenomena tersebut. Sebagian besar teori yang dihasilkan terdengar sangat logis. Kebangkitan ekonomi 90an, sebut mereka, yang membantu penurunan kriminalitas. Perkembangan hukum kepemilikan senjata, sebut yang lain. Teori lain menyebutkan strategi kebijakan inovatif yang diterapkan di New York City, di mana pembunuhan menurun dari 2.245 pada 1990 menjadi 596 di 2003.

Berbagai teori ini bukan hanya logis; tetapi juga membesarkan hati, dengan memberikan kredit atas penurunan kriminalitas pada prakarsa manusia tertentu. Jika kita dapat memberangus kriminalitas dengan pengaturan senjata dan strategi kebijakan yang tepat dan pekerjaan yang lebih menjanjikan–baiklah, itu berarti kemampuan untuk menghentikan penjahat ada di tangan kita. Begitu pula jika di masa yang akan datang, semoga saja tidak, kejahatan memburuk kembali.

Teori-teori tersebut pun menemukan jalannya, hampir tanpa ada yang mempertanyakan, dari mulut para ahli ke telinga jurnalis hingga ke pemikiran publik. Dalam jangka waktu yang tidak lama, teori-teori itu dianggap sebagai conventional wisdom, kebenaran publik.

Hanya saja ada satu masalah: Teori-teori itu tidak benar.

Ada faktor lain, sementara itu, yang telah berkontribusi besar pada penurunan masal kriminalitas era 90an. Faktor ini telah menancapkan akarnya sejak 20 tahun ke belakang dan menyangkut wanita muda di Dallas bernama Norma McCorvey.

Bagai kisah kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di suatu benua dan menimbulkan tornado di benua lain, Norma McCorvey secara dramatis mengubah jalannya suatu kejadian tanpa disadari. Yang dia inginkan hanyalah aborsi. Wanita usia dua puluh satu yang miskin, tak berpendidikan, tanpa keahlian, pembabuk, dan pengguna obat bius ini sebelumnya telah menyerahkan dua anak untuk adopsi dan kini, pada 1970, ia hamil lagi. Tapi di Texas, sama seperti di hampir semua negara bagian lain, aborsi ilegal. Perkara McCorvey ini diterima banyak orang jauh melebihi bayangannya sendiri. Mereka menjadikan ia penuntut utama dalam tuntutan hukum untuk melegalkan aborsi. Pihak tergugat saat itu adalah Henry Wade, pengacara distrik Dallas County. Kasus ini pun sampai ke pengadilan tinggi US, pada saat itu nama McCorvey disamarkan menjadi Jane Roe. 22 Januari 1973, pengadilan memutuskan untuk menerima tntutan Ms. Roe, memperbolehkan aborsi yang dilegalkan di seluruh negeri. Pada saat itu, tentu saja, telah terlambat bagi Ms. McCorvey/Roe untuk melakukan aborsi. Dia telah melahirkan dan memberikan anaknya pada adopsi. (Bertahun-tahun kemudian dia malah meninggalkan keyakinannya pada aborsi legal dan menjadi aktivis pro-kehidupan.)

Lalu bagaimana seorang Roe v. Wade menjadi pemicu, satu generasi kemudian, penurunan kriminalitas terbesar sepanjang sejarah?

Berbicara tentang kriminalitas, dapat dikatakan tidak semua anak dilahirkan sama. Tidak sedikitpun. Studi bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa seorang anak yang lahir di keluarga yang buruk berpotensi untuk menjadi kriminal dibandingkan anak-anak lainnya. Dan jutaan wanita yang cenderung untuk melakukan aborsi pasca Roe v. Wade–wanita remaja miskin dan tidak menikah yang bagi mereka aborsi ilegal dulunya terlalu mahal atau sulit didapatkan–sering menjadi acuan kemalangan. Mereka lah wanita yang anaknya, jika dilahirkan, akan lebih berpotensi di atas rata-rata untuk menjadi kriminal. Akan tetapi karena Roe v. Wade, anak-anak ini tidak dilahirkan. Penyebab utama ini akan memberikan efek yang drastis dan jauh ke depan: bertahun-tahun kemudian, tingkat kriminalitas mulai jatuh.

Bukan kontrol kepemilikan senjata atau ekonomi yang kuat atau strategi kebijakan baru yang pada akhirnya menghentikan arus kriminalitas Amerika. Faktor penyebab itu adalah, dibanding faktor-faktor lainnya, kenyataan bahwa kriminal potensial telah menyusut secara dramatis.

Lalu sekarang, saat para ahli penurunan-kriminalitas (dahulunya ) menyebarkan berbagai teori pada media, berapa banyak menyebutkan pelegalan aborsi sebagai penyebab?

Nihil.

Catatan:  Tulisan ini dibuat dengan menerjemahkan secara bebas (versi penulis) sebuah buku berjudul Freakonomics: A Rogue Economist Explores the Hidden Side of Everything karangan Steven D. Levitt and Stephen J. Dubner halaman 3-6. Sekelumit resensi bisa dilihat di sini. Tulisan ini akan (diusahakan untuk) terus direvisi sesuai kemampuan penulis.

Posted by: viczhoel | February 16, 2009

CISAK 2009: A Report (or Story) from Me

Last week had been very busy for me. It was hectic yet I enjoyed it very much. What was going on? It could have not happen as if I didn’t ask Dwian about one program of Perpika 3 months ago, or so. It is a conference, whose topic broadens from natural to social science, from art to engineering. It is indeed a non-specific theme conference, since its main goal is to be a sharing place of ideas from so diversed students, majors, interests, even places. The one who relates all of that persons is Perpika, an association for Indonesian student in South Korea. That’s why this so-called conference named Conference of Indonesian Students at Korea, a.k.a. CISAK.

The story goes with Dwian asked me to be a member of his team as event coordinator. I approved it and for some weeks later there were several online meetings to be deal with. But then came months of hiatus, marked by final test and winter vacation. Still, some progresses were made until finally the time was coming. February 15 2009, Indonesian Embassy. That’s the conference time and place. Some face-to-face meetings being held dealt with technical preparations of the event. The main issues were lunch meal (mainly correlated with fund), presenter ( lack and uncertainty of material and person), and accommodation. But the committee succeeded to take care of it calmly and elegantly.

February 14 2009. Preparation time. Started from half past 5, we creatively decorated the venue to properly host a conference. Arrange the audience seats, presentation peripherals, partition for photo and poster session, move tables and chairs here and there, set the banner, even create a mushalla–place for muslim to pray. It was almost 8.30 when I accompanied Dwian for dinner and then went home to Suwon. Back to the embassy, Mr. Lee, its a band name, were rehearsing to console the after-conference audience.

Now lets report the CISAK on the day itself. It was 8.30 when I arrived at the embassy. Some members of the committee have been there before me. It was not truly hectic, mostly we were waiting for people. And finally it was decided to postpone the conference from 9.30 to 10.00. Adjustments were made to the original plan. Approximately 9.50 I knocked #502 room of embassy housing and called for Mr. Foster Gultom–ad interim in charge of Minister Counselor. The welcoming speeches commenced the conference, in order from CISAK project officer, Perpika President, and Mr. Foster Gultom. A timing miscalculation occurred and the official opening was done at almost 11 by sounding a gong.

First Session of Presentation was moderated by Mikael Fernandus Simalango. The topics presented were ranged from A Business Opportunity in Korea (Arief Fadillah), Seawater Desalination (Noka Prihasto), and Microfobial Fuel Cell (Windi Indra Muziasari). Another presentation about tellecomunication convergence in Indonesia was cancelled due to technical matter. For almost 2 hours straight, the audience were informed by various insights coming from the experts. But before 1, the presentation session was adjourned and lunch time was launched.

Second Session of Presentation was started at 2. Moderated by Windi Indra Muziasari, this time we talked about Juridical Rights of Indigenous People in Indonesia (Andrea Albert Stefanus), Hydrogen and Fuel Cell (Hary Devianto), then closed by Linguistic Ambiguity (Prihantoro). The last presentation, I personally think, was suitable to bridge a serious and fun section of CISAK, amusing and easy listening. Thanks to the strict moderator, this session finished on time, 15.30. After that, we had a coffee break plus photo and poster session for another half an hour.

I named the last session as ‘Acara Perpika’, which is directed to be a fun familiarity session since the other coin side of this event is gathering. At first, there was almost nothing scheduled here. But eventually, we had a report presentation from three regions of Perpika and music show. The presentations took time of 45 minutes and the show was 30 minutes. We had Andy Tirta Boy, Hadi PS, and Hardian Reza D. who elaborated activity and progress of each region. And finally, Mr. Lee warmed the air with five remarkable self-made songs.

In the end, the conference was closed by the President of Perpika. Most of the audience work together with the committee to order the venue again. But still the committee must do the ‘final touch’ so that there is no difference before and after the show. A promise we made to the embassy.

I am so glad that the event was successful. At first, there was a big worry because of the submitted papers quantity, the limited sponsorship from the embassy, etc. But thankfully all of it has been passed away and left sweet memories. A high respect and thanks given to all committe members, contributors (paper, poster, presentation, music show), moderators, and the audience. I sincerely hope that the same event could be held again next year with bigger scope and result.

Posted by: viczhoel | February 12, 2009

Jurnalisme dan Perubahan Iklim: USA Case

Bayangkan jika para ilmuwan mengumumkan bahwa sebuah meteor raksasa sedang mendekati bumi. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun ke depan, meteor tersebut akan menabrak bumi dan mengakibatkan bencana besar, mungkin bahkan kepunahan umat manusia. Bagaimana sikap para jurnalis mendengar pengumuman tersebut? Sudah pasti, peristiwa tersebut, begitu pula usaha pencegahannya, akan menjadi berita utama di berbagai media. Pers akan menjadi perpanjangan tangan para ilmuwan untuk menginformasikan masyarakat sekaligus menghimbau langkah-langkah apa yang bisa diambil untuk mencegah bencana tersebut.

Dalam kasus perubahan iklim, bisa dikatakan bahwa KITA–MANUSIA–lah meteor tersebut. Well, memang tidak bisa disamakan begitu saja. Bencana besar akibat perubahan iklim masih belum bisa diramalkan kapan akan terjadi. Meskipun demikian, perlahan tapi pasti efek dari perubahan iklim pasti terasa. Lalu bagaimana peran pers dalam kasus ini?

Eric Pooley dalam papernya mencoba membahas mengenai ‘perang’ antara kubu ‘lingkungan’ dan ‘industri’ dalam hal perubahan iklim. Apakah perubahan iklim benar2 terjadi atau kah hanya mitos belaka? Perlukah penerapan kebijakan ‘hijau’ berkaitan dengan penurunan emisi gas rumah kaca? Apa yang akan terjadi apabila kita tidak melakukan usaha apapun? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa sangat berbeda, tergantung kepentingan.

Kubu pertama adalah EDF alias Environmental Defence Fund–Badan Pertahanan Lingkungan. Kubu ini merupakan pendukung RUU Lieberman-Warner yang mengatur sistem pembatasan-dan-perdagangan atas hak emisi karbon di USA. Sistem ini telah berjalan selama beberapa tahun di Eropa sementara PM  John Howard telah mengkaji sistem ini untuk diterapkan di Australia.

Kubu kedua adalah NAM, National Association of Manufacturers–Asosiasi Manufaktur Nasional, dan ACCF, American Council for Capital Formation–Dewan Amerika untuk Pengembangan Modal. Kubu ini, jelas, menentang kebijakan Lieberman-Warner. Salah satu langkahnya adalah dengan mengeluarkan laporan hasil studi mengenai dampak disahkannya RUU tersebut. Beberapa isi laporan tersebut adalah: harga bensin akan naik hingga $8 per galon (5x lipat harga sekarang), 4 juta lapangan pekerjaan akan hilang, dan GDP akan turun sebesar $669 milyar pada tahun 2030.

Dalam memberitakan ‘perang’ antara kedua kubu tersebut, ada 3 tipe jurnalis: pertama, jurnalis yang berat sebelah. Kedua, jurnalis yang menampilkan apa adanya kedua sisi. Ketiga, jurnalis yang bertindak sebagai wasit, yang mampu membedakan kualitas realita suatu berita dan melaporkan secara gamblang kedua sisi. Eric Pooley memberikan tiga jenis kasus dalam papernya yang menjelaskan lebih rinci ‘perang’ ini dan langkah apa yang diambil para jurnalis dalam memberitakannya.

Dalam paper ini ditegaskan kembali peran jurnalisme dalam mencerdaskan massa dan membentuk opini. Satu hal yang pasti, para ilmuwan telah sepakat bahwa perubahan iklim benar2 terjadi, dan hampir semuanya meyakini akan bahaya yang dapat ditimbulkannya. Di sisi lain, para ekonom pun menganjurkan agar pemerintah melakukan usaha yang nyata untuk mengurangi laju perubahan iklim (it’s impossible to be reversed). Usaha-usaha ini antara lain adalah: pembatasan-dan-perdagangan emisi gas rumah kaca, peningkatan efisiensi bahan bakar fosil, dan pengembangan serta pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan tersebut akan menghambat perekonomian terutama dalam jangka pendek dan menengah. Hal ini lah yang menyebabkan pihak-pihak terkait (i.e. NAM&ACCF) berusaha keras mencegah direalisasikannya kebijakan tersebut. Meskipun EDF meyakini bahwa dalam jangka panjang, kerugian yang dialami akan jauh lebih kecil oleh keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Tidak ada seorang pun yang mampu meramalkan masa depan dengan pasti, tidak EDF, tidak pula NAM. Meskipun demikian, adalah tugas pers untuk terus memberitakan secara gamblang dan adil manuver-manuver berbagai pihak, baik pro maupun kontra, dalam membentuk opini publik. Yang pasti, RUU Lieberman-Warner berhasil dimentahkan dan gagal menjadi UU. Sayang, saat itu pers sedang sibuk memberitakan Obama yang berhasil menjadi kandidat presiden dari Demokrat.

Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah paper dari Journal of  Consumer Research, Chicago Journals, berjudul “Enhanching the Television-Viewing Experience through Commercial Interruptions” (2009) karya Leif D. Nelson et al.

Adalah hal yang biasa, wajar dan lumrah jika acara di televisi yang biasa kita tonton tiap hari menampilkan sejumlah iklan di sela-sela acara. Iklan ini oleh sebagian besar orang dianggap hanya mengganggu acara yang ditonton. Padahal, iklan tersebut bisa jadi malah meningkatkan kepuasan kita sebagai konsumen/penonton siaran televisi. Bagaimana mungkin?

Leif D. Nelson dkk. berpendapat bahwa pada dasarnya konsumen siaran televisi memiliki kemampuan beradaptasi terhadap acara yang dia tonton. Mudahnya, pada saat awal menonton sebuah acara, kita akan merasakan kegairahan pada level tertentu–disebabkan daya tarik acara tersebut. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, daya tarik tersebut akan semakin ‘biasa’–teradaptasi–sehingga level kegairahan kita semakin menurun. Commercial break di sini berfungsi untuk menginterupsi proses adaptasi tersebut.  Diharapkan dengan adanya interupsi dari iklan penonton bisa mengembalikan kegairahannya–lagi dan lagi–sehingga secara keseluruhan kenikmatan menonton acara tersebut dapat ditingkatkan.

Untuk membuktikan teori di atas, Leif D. Nelson dkk. melakukan sejumlah studi eksperimen sebagai berikut:

(Studi Pertama) Tujuan dari studi ini adalah untuk membuktikan bahwa interupsi iklan bisa membuat siaran lebih mengasyikkan. Sejumlah mahasiswa diminta untuk menonton sebuah komedi situasi lengkap dengan iklan. Acara yang sama, kali ini bebas iklan, dipertontonkan kepada sejumlah mahasiswa lain. Lalu mereka diminta untuk menilai tingkat kepuasan mereka setelah menonton acara tersebut. Sementara itu, kelompok mahasiswa lain diminta untuk memprediksi hasil eksperimen tersebut mempergunakan intuisi masing-masing. Mereka pun memprediksi bahwa adanya iklan akan menurunkan tingkat kepuasan penonton. Akan tetapi eksperimen berkata lain–program dengan iklan mendapatkan nilai kepuasan lebih tinggi daripada program tanpa iklan.

(Studi Kedua) Studi ini mempertanyakan adanya kepuasan semu akibat pembandingan yang jomplang antara kualitas acara dan iklan yang menginterupsi acara tersebut. Mirip seperti studi pertama, kali ini penonton juga diminta untuk membandingkan kualitas acara dan iklan. Hasil eksperimen menunjukkan konsistensi dengan hasil studi pertama walaupun iklan memiliki kualitas yang sebanding dengan acara.

(Studi Ketiga) Studi kali ini membandingkan pengaruh iklan yang diletakkan di awal dan di akhir acara dengan iklan yang diletakkan di tengah (memotong) acara. Meskipun sama-sama menampilkan iklan, iklan yang memotong acara–interupsi iklan–lah yang menghasilkan tingkat kepuasan lebih tinggi. Selain itu, prediksi dari sekelompok mahasiswa kembali gagal menebak dengan tepat hasil eksperimen.

(Studi Keempat) Studi keempat mencoba membuktikan bahwa faktor interupsi atas proses adaptasi-lah–terlepas apakah itu dari iklan atau bukan–yang mampu memberikan tingkat kepuasan lebih. Eksperimen dilakukan dengan membuat dua buah acara, A dan B. Acara A merupakan sebuah acara yang kontinu dan utuh. Sementara acara B merupakan gabungan dari dua buah acara jadi satu. (fyi, acara yang dimaksud adalah dokumenter alam) Hasil eksperimen menunjukkan keunggulan acara B atas acara A. Pada Studi Ketiga dan Keempat juga dilakukan analisis mengenai timbulnya efek adaptasi pada tiap acara. Hal ini dilakukan dengan meminta para responden untuk memberikan penilaian pada bagian setengah awal dan setengah akhir tiap acara. Sesuai dugaan, efek adaptasi ini muncul pada acara yang berlangsung terus menerus tanpa iklan–dan diperbaiki oleh interupsi iklan.

(Studi Kelima) Studi Kelima dan Keenam mencoba mencari tahu sejumlah hal yang mampu mengeliminasi kemampuan interupsi iklan. Kali ini diteliti pengaruh tingkat adaptasi penonton itu sendiri. Parameter yang diuji coba adalah usia, dengan asumsi semakin tinggi usia kita maka tingkat adaptasi kita akan menurun. Dengan kata lain mereka akan tetap ‘bergairah’ dengan suatu acara lebih lama dibandingkan mereka yang lebih muda. Hasil eksperimen menunjukkan perbedaan tingkat adaptasi untuk tiap kelompok usia. Dengan sendirinya, pengaruh interupsi iklan pun berbeda–semakin kecil untuk tingkat adaptasi yang semakin rendah.

(Studi Keenam) Studi terakhir membenarkan pendapat bahwa tingkat keberhasilan iklan dalam menginterupsi proses adaptasi siaran bergantung pada siaran itu sendiri. Sebagai bahan eksperimen dipergunakan dua buah acara (kali ini video lagu Bollywood) yang berbeda. Terbukti dari hasil eksperimen, kedua acara tersebut menampilkan hasil adaptasi yang berbeda pada saat kondisi tanpa iklan. Acara yang satu mampu mempertahankan kepuasan penonton sampai akhir acara (lets say A) sementara yang lain tidak (B). Kemudian ketika diuji coba setelah ditambahkan iklan, tidak ada perubahan yang signifikan pada acara A sementara acara B menunjukkan perbaikan tingkat kepuasan penonton.

Well, enough said, now lets conclude.. Keenam studi diatas menunjukkan bahwa siaran televisi dapat lebih dinikmati dengan adanya interupsi iklan (Studi Pertama). Efek ini bukan disebabkan oleh keberadaan iklan sebagai faktor pembanding semata (Studi Kedua dan Ketiga). Efek ini tetap muncul pada interupsi non-iklan (Studi Keempat). Akan tetapi efek ini terbatas pada konsumen dan acara tertentu, yaitu mereka yang bisa menimbulkan ‘adaptasi’ (Studi Kelima dan Keenam).

Pada dasarnya, hasil studi di atas tidak dapat diterapkan dalam dunia pertelevisian begitu saja. Misal, interupsi iklan yang terlalu lama atau tidak sesuai dengan mood acara (misal iklan humor pada film horor) bisa merusak kesenangan penonton terhadap acara televisi. Selain itu, sesuai Studi Keenam, terdapat berbagai jenis acara televisi yang berbeda-beda tingkat ‘teradaptasi’ nya. Untuk diskusi lebih lanjut–atau penasaran paper nya kayak apa–dapat merujuk e-paper ini.

PS: Kalau Anda penasaran kenapa saya bisa kesasar ngebaca paper ini, penyebabnya adalah blog ini

Posted by: viczhoel | January 28, 2009

comic strips: Freefall and Bruno the Bandit

A comic strip is a sequence of drawings that tells a story, so Wikipedia says. Here I’d like to share two of them that I’ve been reading recently

Freefall. The story is about a trouble maker alien hated by all people in the world, Sam, and his partner Helix, a four legged robot, who look for an engineer to repair their spaceship. Florence Ambrose, a Bowman’s wolf (explanation here), happens to be the new crew. So, what will happen then?

Bruno the Bandit. Bruno Bunkleyutz is the most ferocious scoundrel who will be the center of this story. In a mission to get the amulet of myglyn a microdragon named Flora decides to be his partner in crime. So the story goes..

I find myself enjoy these comic strips. And I hope you guys would agree

Posted by: viczhoel | January 22, 2009

Teori Permainan Dilema Tahanan

Pernahkah Anda mendengar tentang Teori Permainan atau Game Theory? By definition, teori permainan adalah studi mengenai bagaimana seseorang bersikap dalam situasi strategis. Maksud dari situasi ’strategis’ di sini adalah situasi dimana tiap orang dituntut untuk menentukan sikap dengan mempertimbangkan respon pihak lain atas sikapnya tersebut. Respon yang berbeda dari pihak ‘lawan’ akan memberikan hasil akhir yang berbeda pula. Oleh karena itu, tiap individu akan bergerak berdasarkan strategi tertentu dengan tujuan mendapatkan hasil akhir yang menguntungkan bagi dirinya sendiri.

Salah satu contoh di sini adalah ‘permainan’ yang disebut sebagai Dilema Tahanan.

Cerita ini bermula dengan ditangkapnya dua orang penjahat, sebut saja Joker dan Two-Face. Mereka ditangkap atas tuduhan kepemilikan senjata api dengan tuntutan 1 tahun penjara. Selain itu, mereka juga dicurigai sebagai dalang perampokan yang terjadi di Bank Gotham beberapa hari sebelumnya. Sayangnya, polisi tidak memiliki bukti akan hal ini. Langkah polisi selanjutnya adalah menginterogasi Joker dan Two-Face dalam ruangan yang terpisah dan membuat penawaran berikut:

Saat ini kami dapat memenjarakan Anda selama satu tahun atas kepemilikan senjata api. Akan tetapi jika Anda mau mengaku sebagai perampok Bank Gotham beberapa hari lalu dan bersaksi bahwa kawan Anda ikut serta dalam perampokan tersebut, maka Anda akan kami bebaskan sementara kawan Anda akan kami penjarakan selama 10 tahun. Meskipun demikian, jika kalian sama-sama mengaku atas tuduhan tersebut, maka kami tidak membutuhkan kesaksian Anda atas kejahatan kawan Anda. Dan sebagai reward atas kerja sama kalian berdua, kami hanya akan memenjarakan kalian selama 3 tahun.

Jika mereka hanya memikirkan kemungkinan hukuman mereka masing-masing, menurut Anda keputusan apa yang mereka ambil?

Pertama-tama, kita lihat apa yang dipikirkan oleh Joker:

Hm, Two-Face bakal ngaku ga ya? Kalau dia ngga ngaku, mending gw ngaku aja supaya bisa bebas. Tapi kalau dia ngaku, gw juga harus ngaku. Daripada gw dipenjara 10 tahun sementara dia bebas, mending dipenjara 3 tahun. OK, apapun keputusan Two-Face, gw HARUS ngaku.

Dalam Teori Permainan, strategi Joker di atas bisa disebut sebagai Strategi Dominan, yaitu keputusan terbaik bagi seorang pemain apapun strategi pemain lawan. Seperti yang bisa kita lihat, Strategi Dominan bagi Joker adalah mengaku atas kejahatan nya sendiri dan bersaksi atas kejahatan Two-Face.

Lalu apa keputusan Two-Face. Tentu saja dia akan mengambil keputusan yang sama, mengaku atas kejahatan nya sendiri dan bersaksi atas kejahatan Joker. Karena bagaimanapun juga, keputusan itu lebih baik bagi dirinya sendiri apapun keputusan yang diambil Joker.

Akhir dari cerita ini mudah ditebak. Joker dan Two-Face mengaku atas kejahatan mereka dan dipenjarakan selama 3 tahun. Pada akhirnya, timbul penyesalan di hati mereka. Seandainya saja mereka berdua sama-sama DIAM dan tidak mengakui kejahatan mereka, mereka hanya perlu menghabiskan waktu di penjara selama 1 tahun.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories