Mahasiswa S3 dan Konsepsi Seorang PhD

Posted: October 12, 2010 in Uncategorized

Beda program S1, S2, S3 di mana?

April 25, 2008 in ITB, Work

Oleh: Dr. Armein Z R Langi

Jaman dulu, tahun 60an, pendidikan tertinggi biasanya hanya sampai
sarjana. Tapi hari ini ada program sarjana, magister, dan doktor.
Apa sih bedanya? Apakah kita harus belajar sampai S3?

Terlepas dari status di masyarakat, kita harus meletakkan tingkat
pendidikan ini pada proporsi yang sebenarnya.

Pendidikan sarjana (S1) harusnya mengajarkan khasanah ilmu yang ada
sehingga ia menjadi orang yang terdidik. Ia memiliki dan menguasai
suatu disiplin atau metoda berpikir di bidangnya. Ia memiliki
pemahaman tentang dunia yang lebih tepat. Ia juga bisa belajar bahan
dan materi yang lebih sukar. Kemudian ia bisa menerapkan ilmunya untuk
persoalan-persoalan yang generik. Artinya jenis persoalan yang memang
sudah pernah diajarkan.

Pendidikan magister (S2) adalah kelanjutan dari pendidikan S1. Ia
mengusai state of the art dan best practices di bidangnya. S2 semacam
lisensi untuk mempraktekkan profesi bidang ini. Berbeda dengan S1
yang cenderung generalis, S2 cenderung spesialis. Lulusan S2 bisa
mendesain dan menginovasi solusi baru.

Pendidikan doktoral (S3) dimaksudkan untuk menghasilkan peneliti.
Peneliti adalah orang yang senang mencari kemudian mengkodifikasi
pengetahuan baru. Jadi syarat pertama seorang doktor sebenarnya
adalah keinginan menulis pengetahuan baru. Semacam anggota
legislatif, begitu. Tanpa keinginan ini, pendidikan doktoral
sebenarnya sia-sia. Syarat kedua, tentu keinginan tahu serta
kegigihan untuk menggunakan metoda riset untuk mencari pengetahuan
baru.

Dari segi kompetensi, lulusan S1 harus siap memasuki bidang profesi.
Lulusan S2 harus siap berinovasi dalam profesi. Lulusan S3 harus siap
meneliti dan mempublikasi pengetahuan baru.

Nah, apakah kita semua harus menjadi S3? Jelas tidak. Kecuali kita
mau jadi peneliti, dosen atau berbisnis di bidang teknologi, gelar
doktor itu sebenarnya sia-sia. Buang-buang waktu dan uang.

Tapi di Indonesia, gelar doktor masih bisa juga untuk impress mertua
atau kampanye pilkada/pilpres. Jadi sebenarnya berguna juga ya…

Tulisan di atas saya dapatkan dari milis IA ITB (yang baru saja berubah nama jadi milis ITB Club). Membaca artikel pendek di atas membuat saya kembali berkontemplasi dan berpikir, sudahkah saya memahami makna dan konsekuensi pilihan saya untuk melanjutkan studi hingga S3? Pun jikalau pemahaman itu sudah terpatri, sudah sesuaikan attitude dan kinerja saya sesuai dengan pemahaman tersebut?

Saya pikir jawabannya adalah belum. Sesuai konsepsi di atas, pendidikan doktoral identik dengan peneliti, orang yang bergelut dengan pengetahuan demi menghasilkan suatu kontribusi berupa formulasi pengetahuan baru. Untuk itu, seseorang yang mengaku mahasiswa S3 harus membekali diri dengan kemampuan formulasi masalah, riset dan tinjauan atas masalah tersebut dari berbagai sudut pandang, pemahaman dan pengembangan metode pemecahan masalah, perumusan hipotesis, hingga proses pembuktian hipotesis dengan mempergunakan kaidah ilmiah yang terukur. Supaya mampu melakukan itu semua, seorang mahasiswa S3 wajib bergelut dengan buku, jurnal, paper, diskusi ilmiah, ditambah penguasaan atas sejumlah tools spesifik untuk membantu proses penelitian. Tetapi di atas itu semua, yang paling penting adalah kejernihan dan ketajaman pikiran dalam mengkonstruksi sebuah ide dan merealisasikannya.

Lalu di mana posisi saya sekarang? Jujur saja, saat ini saya masih dalam tahapan pre-doctoral study, kalau tahap itu ada. Tahap di mana seseorang mengarungi lautan ilmu pengetahuan untuk mendapatkan pemahaman secara menyeluruh atas suatu bidang ilmu sembari mencermati cabang-cabang spesifik di mana kita dapat berkontribusi mengembangkan ilmu pengetahuan yang authentic and original di situ.  Perlahan tapi pasti membangun kapabilitas diri supaya bisa memenuhi konsepsi seorang PhD yang telah menjadi pemahaman yang terpatri.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s