Bayangkan jika para ilmuwan mengumumkan bahwa sebuah meteor raksasa sedang mendekati bumi. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun ke depan, meteor tersebut akan menabrak bumi dan mengakibatkan bencana besar, mungkin bahkan kepunahan umat manusia. Bagaimana sikap para jurnalis mendengar pengumuman tersebut? Sudah pasti, peristiwa tersebut, begitu pula usaha pencegahannya, akan menjadi berita utama di berbagai media. Pers akan menjadi perpanjangan tangan para ilmuwan untuk menginformasikan masyarakat sekaligus menghimbau langkah-langkah apa yang bisa diambil untuk mencegah bencana tersebut.
Dalam kasus perubahan iklim, bisa dikatakan bahwa KITA–MANUSIA–lah meteor tersebut. Well, memang tidak bisa disamakan begitu saja. Bencana besar akibat perubahan iklim masih belum bisa diramalkan kapan akan terjadi. Meskipun demikian, perlahan tapi pasti efek dari perubahan iklim pasti terasa. Lalu bagaimana peran pers dalam kasus ini?
Eric Pooley dalam papernya mencoba membahas mengenai ‘perang’ antara kubu ‘lingkungan’ dan ‘industri’ dalam hal perubahan iklim. Apakah perubahan iklim benar2 terjadi atau kah hanya mitos belaka? Perlukah penerapan kebijakan ‘hijau’ berkaitan dengan penurunan emisi gas rumah kaca? Apa yang akan terjadi apabila kita tidak melakukan usaha apapun? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa sangat berbeda, tergantung kepentingan.
Kubu pertama adalah EDF alias Environmental Defence Fund–Badan Pertahanan Lingkungan. Kubu ini merupakan pendukung RUU Lieberman-Warner yang mengatur sistem pembatasan-dan-perdagangan atas hak emisi karbon di USA. Sistem ini telah berjalan selama beberapa tahun di Eropa sementara PMĀ John Howard telah mengkaji sistem ini untuk diterapkan di Australia.
Kubu kedua adalah NAM, National Association of Manufacturers–Asosiasi Manufaktur Nasional, dan ACCF, American Council for Capital Formation–Dewan Amerika untuk Pengembangan Modal. Kubu ini, jelas, menentang kebijakan Lieberman-Warner. Salah satu langkahnya adalah dengan mengeluarkan laporan hasil studi mengenai dampak disahkannya RUU tersebut. Beberapa isi laporan tersebut adalah: harga bensin akan naik hingga $8 per galon (5x lipat harga sekarang), 4 juta lapangan pekerjaan akan hilang, dan GDP akan turun sebesar $669 milyar pada tahun 2030.
Dalam memberitakan ‘perang’ antara kedua kubu tersebut, ada 3 tipe jurnalis: pertama, jurnalis yang berat sebelah. Kedua, jurnalis yang menampilkan apa adanya kedua sisi. Ketiga, jurnalis yang bertindak sebagai wasit, yang mampu membedakan kualitas realita suatu berita dan melaporkan secara gamblang kedua sisi. Eric Pooley memberikan tiga jenis kasus dalam papernya yang menjelaskan lebih rinci ‘perang’ ini dan langkah apa yang diambil para jurnalis dalam memberitakannya.
Dalam paper ini ditegaskan kembali peran jurnalisme dalam mencerdaskan massa dan membentuk opini. Satu hal yang pasti, para ilmuwan telah sepakat bahwa perubahan iklim benar2 terjadi, dan hampir semuanya meyakini akan bahaya yang dapat ditimbulkannya. Di sisi lain, para ekonom pun menganjurkan agar pemerintah melakukan usaha yang nyata untuk mengurangi laju perubahan iklim (it’s impossible to be reversed). Usaha-usaha ini antara lain adalah: pembatasan-dan-perdagangan emisi gas rumah kaca, peningkatan efisiensi bahan bakar fosil, dan pengembangan serta pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan tersebut akan menghambat perekonomian terutama dalam jangka pendek dan menengah. Hal ini lah yang menyebabkan pihak-pihak terkait (i.e. NAM&ACCF) berusaha keras mencegah direalisasikannya kebijakan tersebut. Meskipun EDF meyakini bahwa dalam jangka panjang, kerugian yang dialami akan jauh lebih kecil oleh keuntungan yang bisa kita dapatkan.
Tidak ada seorang pun yang mampu meramalkan masa depan dengan pasti, tidak EDF, tidak pula NAM. Meskipun demikian, adalah tugas pers untuk terus memberitakan secara gamblang dan adil manuver-manuver berbagai pihak, baik pro maupun kontra, dalam membentuk opini publik. Yang pasti, RUU Lieberman-Warner berhasil dimentahkan dan gagal menjadi UU. Sayang, saat itu pers sedang sibuk memberitakan Obama yang berhasil menjadi kandidat presiden dari Demokrat.