Posted by: viczhoel | July 28, 2008

Raising Children in Korea

Beberapa hari belakangan, ada berita baik dari milis perpika. Kita dapet 2 orang anggota junior!! Maksudnya, 2 orang anggota perpika baru saja punya momongan imut nan lucu. Kebetulan Minggu kemarin ketemu dengan salah satu dari mereka, mas Nandha Handaru. Kemudian beliau sempet cerita2 soal sejarah keluarga beliau. Dari awal nikah, meninggalkan istri untuk Master di Korea, bawa istri ke Korea, nyari2 Arbeit buat istri, sampai akhirnya kepulangan istri ke Indonesia dalam rangka melahirkan dan lahirnya sang buah hati. So great story. Kagum awa. Dan saat ini beliau lagi konsentrasi penuh untuk dapet tiket pulang ke Indonesia. Maklum, peak season. 화이팅!!

Nah, kenapa judulnya Raising Children in Korea? Sebenernya ga punya kapabilitas yang cukup buat bicara ini. Lha wong punya istri saja belum, apalagi Children? Cuma kepikiran aja dari kemarin. So, basically it will be just a simple sharing session.

OK, lets start then. First, how come? Ya kalau Anda adalah pria atau wanita yang berdomisili di Korea, memiliki pasangan sah, dan memiliki anak, maka ada kemungkinan Anda akan membesarkan anak Anda di Korea. Meskipun ada pula kemungkinan untuk membesarkan Anak di Indonesia. Ini sering terjadi terutama ketika sang Ayah akan tinggal di Korea dalam kurun waktu yg ga terlalu lama dan sang Ibu biasanya memiliki perkerjaan di Indonesia. Minusnya, ya frekuensi tatap muka dan komunikasi. Apalagi untuk case anak pertama, wah berat tuh. So, lets assume that u will raise ur children in Korea.

Sekarang, apa untung ruginya? Yang pasti lingkungan. Membesarkan anak di luar negeri membutuhkan perhatian yang berbeda dibandingkan membesarkan anak di Indonesia. Selain jarangnya sanak saudara maupun kawan Indonesia, perbedaan kultur akan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam tumbuh kembang si kecil. As example, especially for Moslem, kita kan punya larangan2 tertentu terutama dalam hal makan dan minum. Nah, kita musti bisa mengajarkan kepada si kecil mengenai hal2 ini. Jangan sampai anak kita diajak makan oleh tetangga atau guru TK/PreSchool dan makanan yang disajikan mengandung babi. Ketidaksengajaan yang berawal dari ketidaktahuan seperti ini musti diminimalisir sejak dini. Juga soal ibadah. Bagaimana kita membiasakan si kecil untuk solat dan puasa, sementara temen2 mainnya tidak melakukan. FYI, di Korea, babi dan alkohol itu amat sangat terkenal sekali.

Tantangan lainnya, bagaimana caranya supaya anak kita tidak kehilangan identitas dirinya sebagai orang Indonesia. Situasi akan lebih mudah apabila terdapat komunitas Indonesia yang cukup solid di negara yang bersangkutan, syukur2 di lingkungan sekitar. Biasanya komunitas ini akan banyak terbentuk di daerah2 kampus besar atau wilayah industri. Selain itu, partisipasi dalam acara2 yang diadakan oleh Kedubes RI juga akan sangat membantu. Dan biasanya, di Kedubes RI disediakan sejumlah fasilitas budaya Indonesia, seperti brosur/leaflet, pakaian2 adat, dan lain-lain. Intinya, kita harus membiasakan sang anak untuk berinteraksi dengan sebanyak mungkin Indonesia Saram (Orang Indonesia, red) dan mengenal serta bangga akan bangsa dan negaranya sendiri. Nasionalis mode on.

Sekarang untungnya apa? Lagi-lagi, lingkungan dan budaya. Contoh mudah, pas acara di KBRI kemarin, beberapa pejabat dan pegawai KBRI juga membawa anak2 mereka. Uniknya, anak2 ini secara naluriah mampu berbicara dalam tiga bahasa sekaligus, Indonesia, Korea, dan Inggris. Ga kebayang masa kecil dulu udah fasih berbicara dalam berbagai bahasa. Ya, membesarkan anak di Korea akan memberi kesempatan pada anak tersebut untuk mempelajari budaya yang berbeda dan memperluas khazanah, wawasan, dan cara pandang mereka. Tentu saja, peran orangtua sangat diperlukan sebagai penyeimbang dan juga penjaga nilai. Sehingga akulturasi budaya yang dihasilkan akan mengekstrak sisi2 positif dari berbagai budaya yang diakulturasikan tersebut.

Keuntungan lain, kesempatan. Tidak bisa dipungkiri, untuk saat ini kualitas pendidikan di Korea masih lebih baik ketimbang Indonesia. Kesempatan inilah yang biasanya menjadi salah satu motivasi para orangtua untuk membesarkan anak di luar negeri. Intinya, kesempatan untuk mengembangkan diri lebih terbuka dengan adanya ‘dunia’ yang lebih luas bagi sang anak.

Nah, begitulah. Lebih mirip sesi curhat ketimbang tulisan yang bener-bener ‘nulis’, hehe. Nah, as if I have a chance to raise my children here in Korea or other foreign country, what will I do? First, I’ll try hard to optimize my time and concentration for my family. Second, I’ll learn to be a good communicator father. Let my children to explore the world and make them learn something by reasoning, not only simply by order. Third, about the priority. Being a good moslem is on top of all. And then comes how to adapt without leaving your identity. An Indonesian Moslem is what I mean with identity. And I’d love to adapt the hard work and competitive culture of Korean, which is world-known I think. Last but not least, to create a warm family with happiness in this world and hereafter. Amin.


Responses

  1. Hm,pmikiran yg jauh kdpan!! Kykna TmenQ dh siap jd ayah ne..he he he

  2. lah kar…. kamu dah bisa bicara dengan 3 bahasa?

  3. wew… so sweet :)
    kok sudah berencana?
    *memasang tampang curiga*

  4. @mei
    halah, ga juga kok.. cuma kagum aja ngeliat anak2 kecil yg bahasa inggrisnya tmpk lebih ok ketimbang gw.. bahasa koreanya juga..
    ..duh..

    @Winnu Ayi
    belum ditambah Jerman dan Jawa win,wkwkwk *songong tanpa skill* :p

    @narpen
    eh, emang nyebut soal berencana ya?? ga tuh :D

  5. nice post. latihan nulis, vic?
    makin lama postingannya tambah bagus..

    mau berlatih juga ah.. *ngiri mode on* :D

    whoaa.. ada yg bilang postinganku bagus.. terharu.. TT
    makasih.. kamsahamnida..


Leave a response

Your response:

Categories