Posted by: viczhoel | October 20, 2009

Profil Menteri-Menteri Ekonomi

Menko Perekonomian: Hatta Rajasa

Kelahiran: Palembang, 18 Desember 1953

Pendidikan:
Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB)

Jabatan sebelumnya:
1980 -1983 Wakil Manager teknis PT. Meta Epsi Perusahaan pengeboran minyak
1982- 2000 Presiden Direktur Arthindo
1999- 2000 Ketua Fraksi Partai Reformasi DPR
2000-2005 Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (DPP-PAN)
2001-2004: Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kabinet Gotong Royong
2004-Mei 2007: Menteri Perhubungan (Menhub) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB)
Mei 2007-2009: Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB)

Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati

Kelahiran: Tanjung Karang, 26 Agustus 1962

Pendidikan:
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
University of Illinois Urbana Champaign, USA Master of Science of Policy Economics
University Urbana Champaign, Ph.D of Economic

Jabatan sebelumnya:
1999-2001: Anggota Dewan Ekonomi Nasional
2002-2004: Direktur Eksekutif IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara
Oktober 2004-Desember 2005: Menneg PPN/Kepala Bappenas
Desember 2005-2009: Menteri Keuangan KIB
Juni 2008-2009: Plt Menko Perekonomian KIB

Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu

Kelahiran: Jakarta, 23 Oktober 1956

Pendidikan:
MA dalam bidang Microeconomics, International Trade, Economic Development & Accounting Australian National University, Canberra
Ph.D bidang International Trade, Finance & Monetary Economic University of California.

Jabatan Sebelumnya:
Dosen Fakultas Ekonomi UI
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS)
2004-2009: Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB)

Menteri Perindustrian: Mohamad Suleman (MS) Hidayat

Kelahiran: Jombang, 2 Desember 1944

Jabatan Sebelumnya:
1989-1992: Ketua Real Estate Indonesia
2004-2008 dan 2008-2012: Ketua Umum Kadin

Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto

Kelahiran: Pengging, 5 Juli 1943

Pendidikan:
Teknik Sipil Universitas Gajah Mada (UGM)
Pasca Sarjana Land and Water IHE-Delft Netherland.

Jabatan sebelumnya:
3 Januari 2001-21 Oktober 2004: Dirjen Pengembangan Permukiman Depkimpraswil.
2004-2009: Menteri Pekerjaan Umum Kabinet Indonesia Bersatu.

Menteri ESDM: Darwin Zahedy Saleh

Kelahiran: Riau 29 Oktober 1960

Pendidikan:
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
S2 bidang administrasi bisnis Middle Tennessee State University
Program Doktor FEUI

Jabatan Sebelumnya:
Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan Partai Demokrat
Anggota DPR RI dari Dapil Lampung
Pengajar Fakultas Ekonomi UI

Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana

Kelahiran: Bandung, 16 Agustus 1960

Pendidikan:
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Master of Arts in Economics, Northwestern University, Evanston, Illinois, USA
Doctor of Philosophy in Economics, University of Washington, Seattle, Washington, USA

Jabatan sebelumnya:
Juni 1996-Sekarang: Ketua Departemen Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Padjadjaran

Menteri Perhubungan: Freddy Numberi

Kelahiran: Serui, Papua, 15 Oktober 1947

Pendidikan:
Berkarir di TNI AL

Jabatan sebelumnya:
1998: Gubernur Papua
1999-2001: Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Duta Besar Indonesia untuk Italia dan Malta
2004-2009: Menteri Kelautan dan Perikanan
Dewan Pembina Partai Demokrat

Menneg BUMN: Mustafa Abubakar

Kelahiran: Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, 15 Oktober 1949

Pendidian:
S1-S3: Institut Pertanian Bogor

Jabatan Sebelumnya:
Plt Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam
21 Maret 2007-Sekarang: Dirut Perum Bulog

Menteri Pertanian: Suswono

Kelahiran: Tegal, 20 April 1959

Pendidikan:
S1 Sosial Ekonomi Peternakan IPB
S2 Manajemen Agribisnis IPB

Jabatan Sebelumnya:
2004-2009: Wakil Ketua Komisi IV DPR RI
Anggota DPR dari FPKS
Dosen IPB

Menneg Koperasi dan UKM: Syarif Hasan

Kelahiran: Palopo, 17 Juni 1946

Jabatan Sebelumnya:
Wakil Sekjen Partai Demokrat
Anggota DPR RI dari Partai Demokrat

Menakertrans: Muhaimin Iskandar

Kelahiran: Jombang, 24 September 1966

Pendidikan:
S1 Fisipol UGM
S2 Ilmu Komunikasi UI

Jabatan sebelumnya:
1999-2004 dan 2004-2009: Wakil Ketua DPR RI

Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad

Kelahiran: Ternate, 20 Mei 1952

Pendidikan:
Fakultas Teknik Industri, Departemen Teknik Fisika ITB, (1978)
Doktor Ilmu Administrasi Negara UGM

Jabatan sebelumnya:
Gubernur Provinsi Gorontalo (2001-2011)
Wakil Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (2003-2007)
Ketua Dewan Jagung Indonesia (periode 2004 – )
Anggota MPR-RI sejak 1992-2004
Pengurus Inti DPP Partai Golkar (1989-2004)
Ketua DPD Partai Golkar periode (2005-2010)

Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan

Kelahiran: Lampung 17 Mei 1962

Pendidikan:
Sarjana Ekonomi, Universitas Krisnadwipayana di Jakarta (1996)
Magister Manajemen, Sekolah Tinggi Manajemen PPM di Jakarta (2003)

Jabatan Sebelumnya:
Anggota Komisi VI DPR
Ketua Fraksi PAN DPR
Sekjen PAN (2005-2010)

Kepala BKPM: Gita Wirjawan

Kelahiran: Jakarta, 21 September 1965

Pendidikan:
Kennedy School of Government, Harvard University

Jabatan Sebelumnya:
Chairman PT Ancora International
Komisaris PT Pertamina (persero)
Presiden Direktur JP Morgan

(source: detik Finance)

Mumpung lagi rajin, kita beresin yu seri Mari Belajar Ekonomi episode perdana 10 Prinsip Ekonomi.  Setelah memahami bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana keputusan-keputusan individu berinteraksi, kali ini kita diskusikan bagaimana keseluruhan ‘ekonomi’ yang terbentuk dari keputusan2 dan interaksi2 tersebut bekerja secara keseluruhan.

Prinsip VIII: Standar hidup suatu negara bergantung pada kemampuan memproduksi barang dan jasa

Fakta menunjukkan perbedaan standar hidup yang cukup mencolok antarnegara yang ada di dunia. Bank Dunia membagi tingkat pendapatan suatu negara menjadi Low Income (LIC) untuk di bawah $785, Lower Middle Income (LMC) untuk $766-$3035, Upper Middle Income (UMC) untuk $3036-$9385, dan High Income untuk di atas $9386. Indonesia sendiri terletak pada tingkatan LMC. Perbedaan tingkat pendapatan mengakibatkan pula perbedaan standar hidup: kepemilikan akan barang-barang elektronik, akses layanan pendidikan dan kesehatan, ketersediaan nutrisi, hingga tingkat harapan hidup (life expectancy). Faktor apa yang menjadi penentu tingkat standar hidup suatu negara? Produktivitas, yaitu jumlah barang dan jasa yang diproduksi tiap satu jam kerja. Semakin produktif masyarakat suatu negara, semakin besar kemampuan mereka menikmati standar hidup yang lebih baik. Konsep produktivitas dan standar hidup ini akan berdampak pula pada kebijakan publik. Kebijakan publik yang bertujuan meningkatkan standar hidup masyarakat harus mampu menjawab pertanyaan kunci, ‘bagaimana meningkatkan produktivitas masyarakat?’ Untuk itu, diperlukan pendidikan yang baik, fasilitas yang memadai, kebijakan yang tepat dan dukungan teknologi yang mumpuni.

Prinsip IX: Harga akan naik ketika pemerintak mencetak terlalu banyak uang

Mungkin kalian masih ingat dengan inflasi gila-gilaan–disebut juga hiperinflasi–di Zimbabwe, sampai-sampai terbit duit kertas bertuliskan 10 milyar. Kini, setelah mengalami 3 kali devaluasi–penurunan nilai mata uang–sejak 2006, dolar Zimbabwe dinyatakan tidak berlaku, alih-alih mata uang internasional lah yang berlaku di negara tersebut. Tahukah kalian apa penyebab inflasi? Secara umum, inflasi atau kenaikan tingkat keseluruhan harga disebabkan terutama oleh jumlah uang yang beredar di masyarakat. Seperti di Jerman periode awal 20an di mana harga-harga naik 3 kali lipat tiap bulannya, jumlah uang tercatat meningkat 3 kali tiap bulannya.

Prisip X: Masyarakat menghadapi tarik-ulur jangka pendek antara inflasi dan pengangguran

Meskipun dalam jangka panjang inflasi merupakan efek utama dari jumlah uang beredar, dalam jangka pendek mencetak uang banyak-banyak malah bisa mengurangi pengangguran. Lho? Berikut alur analisisnya. Peningkatan jumlah uang beredar dapat menstimulasi kemampuan belanja sehingga tingkat permintaan pun meningkat. Kenaikan tingkat permintaan memang berpotensi menaikkan harga, akan tetapi ia juga akan menarik minat pengusaha untuk meningkatkan produksi barang dan jasa untuk memenuhi permintaan tersebut. Untuk itu, diperlukan lebih banyak pekerja. Secara umum lapangan pekerjaan akan meningkat dan pengangguran pun menurun. Jadi, dalam skala keseluruhan ekonomi terdapat pula tarik-ulur (trade off), yaitu antara inflasi dan pengangguran. Para penentu kebijakan dapat memanfaatkan tarik-ulur jangka pendek ini untuk menentukan kombinasi inflasi dan pengangguran yang dirasa ‘pas’. Caranya dengan mengatur pengeluaran pemerintah, tingkat pajak dan jumlah pencetakan uang. Hal ini, tentu saja, menjadi subjek perdebatan yang tidak pernah berhenti.

(Source: Gregory Mankiw, Principles of Economics 4th edition, 2007)

Ehem, blog ini tampak berdebu, sarang laba-laba pun muncul di pojok atas ruangan, kusam dan buram. So, lets put some colors again. Menyambung postingan sebelumnya, kali ini saya akan kembali bercerita tentang sepuluh prinsip ekonomi. Sebelumnya, kita tahu bagaimana orang membuat keputusan. Tarik-ulur, biaya kesempatan, keuntungan marginal dan insentif menjadi pokok pembicaraan kita. Sebagai catatan, meskipun terlihat rumit, berbagai macam proses pertimbangan untuk membuat sebuah keputusan bisa dilewati hampir secara otomatis oleh tiap orang. Kita tidak membutuhkan kalkulasi yang rumit untuk memutuskan tinggal di rumah dan tiduran sepanjang hari, melupakan janji yang sudah kita buat sebelumnya. Simply, buat kita pergi meninggalkan kasur, menempuh perjalanan dan menghabiskan waktu untuk memenuhi janji ARE MORE COSTLY daripada tidur2an di rumah dan mengecewakan counterpart janji kita.

The next question is, dengan berbagai macam ego dan prinsip dan keinginan orang yang berbeda-beda, bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain? Karena tentunya, keputusan kita pun akan memberikan efek buat orang lain. Jadi, mari kita mulai diskusi kita.

Prinsip V: Pertukaran barang dapat menguntungkan semua pihak

Saya teringat sebuah joke menarik mengenai ini. Alkisah sebuah pabrik mobil yang berpusat di Oklahoma, USA. Setelah sekian lama memonopoli pasar mobil di USA, muncul sebuah pabrik pesaing, yang ajaibnya terletak di tengah lautan. Jika pabrik Oklahoma membutuhkan biaya sebesar $25rb untuk mendisain, meproduksi parts dan merakit sebuah mobil hingga jadi, maka pabrik San Fransisco dengan ajaibnya hanya membutuhkan 50 ton gandum seharga $12rb. Prosesnya pun terbilang cukup mudah. Cukup mengirim gandum ke pabrik melalui kapal, voila! mobil dengan setengah harga pasar pun tersedia. The factory is called HONDA. Yup, pabrik ajaib kita adalah perusahaan ekspor impor. Apakah perdagangan gandum-mobil di atas menguntungkan USA-Jepang? We could say so. Konsumen mobil USA bisa mendapatkan mobil dengan murah. Konsumen Jepang bisa mendapatkan gandum kualitas tinggi. Pabrik Oklahoma akan merugi akibat persaingan tentu saja. Akan tetapi, dengan sejumlah inovasi dia bisa bangkit, kembali ke pasar, dan memberikan suplai mobil dengan kualitas dan harga yang lebih menguntungkan konsumen.

Prinsip VI: Mekanisme Pasar merupakan metode yang cocok untuk mengatur kegiatan ekonomi. Biasanya sih

Masih ingat dengan perang dingin? Salah satu ideologi yang dipertentangkan adalah ekonomi pasar melawan ekonomi terpusat. Salah satu kelemahan ekonomi terpusat adalah, tidak adanya insentif yang cukup untuk maju dan berbuat lebih. Semua sudah diatur oleh pemerintah. Di sini bisa kita lihat kelemahan kedua. Pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya secara tepat. Di lain pihak, mekanisme pasar bertumpu pada keputusan kolektif rumah tangga dan perusahaan dalam pengalokasian sumber daya. Dibandingkan pemerintah, tak ayal lagi, pasar memiliki kemampuan lebih. Pasar memunculkan permintaan barang maupun jasa; Pasar pula lah yang mengumpulkan perusahaan maupun rumah tangga untuk menyediakan penawaran. Ekonom menyebut mekanisme ini sebagai tangan gaib (invisible hand).

Prinsip VII: Pemerintah dapat meningkatkan kinerja pasar

Anda mungkin bertanya, jika mekanisme pasar dapat mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien, apa perlunya pemerintah? Salah satunya adalah untuk memastikan mekanisme pasar bekerja dengan baik melalui penegakan hukum dan penyediaan sarana prasarana. Apa gunanya mekanisme pasar kalau pencurian merajalela, perjanjian dagang tidak ditepati dan jalur transportasi buruk (dan tidak ada cukup insentif bagi pasar untuk menyediakan jalur transportasi)? Peran pemerintah tidak hanya berhenti sebagai fasilitator. Terkadang intervensi terhadap mekanisme pasar diperlukan, karena si tangan gaib kita memang bisa mengatur ekonomi, tetapi bukan berarti mahakuasa. Di sini pemerintah dapat melakukan dua hal: meningkatkan efisiensi dan keadilan. Salah satu penyebab ketidakefisienan pasar adalah eksternalitas, yaitu pengaruh suatu tindakan terhadap khalayak umum. Contoh eksternalitas (negatif) yang paling umum adalah polusi. Ada pula faktor kekuatan pasar, di mana suatu kekuatan tunggal (atau segelintir orang) memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pasar. Bisa juga disebut monopoli. Pemerintah memiliki peran untuk mencegah timbulnya faktor-faktor tersebut yang bisa mengakibatkan gagalnya kerja mekanisme pasar. Kemudian berbicara mengenai keadilan, mekanisme pasar hanya bisa mengatur alokasi sumber daya berdasarkan kemampuan memproduksi sesuatu yang mana orang mau membayar untuk itu. Si tangan gaib tidak menjamin tiap orang bisa punya pekerjaan, bisa makan cukup atau bisa berobat jika sakit. Pemerintah lah yang bertanggung jawab atas keadilan bagi seluruh rakyat, dengan mekanisme pajak, subsidi dan program kesehatan atau sembako murah.

(Source: Gregory Mankiw, Principles of Economics 4th edition, 2007)

Lets start from definition, will ya? Ekonomi berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani, oikonomos, yang berarti “pengatur rumah tangga.” Sementara sebagai sebuah ilmu ekonomi dapat diartikan sebagai ilmu mengenai bagaimana masyarakat mengelola sumber daya (resources) yang bersifat langka (scarce). Adanya kelangkaan (scarcity) inilah yang membuat kita ga bisa memenuhi semua keinginan kita. Bagaimana sumber daya yang terbatas itu dialokasikan, bergantung pada aksi tiap komponen masyarakat, yang secara umum dibagi menjadi dua kubu: rumahtangga (household) dan perusahaan (firm).

Secara umum, para ekonom berusaha mempelajari bagaimana orang mengambil keputusan yang berkaitan dengan pengalokasian sumber daya. Pekerjaan apa yang dipilih, barang dan jasa apa yang dibeli, seberapa banyak yang disimpan. Para ekonom juga mempelajari bagaimana orang berinteraksi satu sama lain. Seperti bagaimana pembeli dan penjual membentuk pasar dan menetapkan harga. Dan akhirnya, para ekonom menganalisa berbagai faktor serta kecenderungan yang berlaku pada ekonomi secara keseluruhan. Tingkat kenaikan harga (inflasi), pertumbuhan pendapatan rata-rata, juga tingkat pengangguran.

Jadi, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan kita sehari-hari, hanya saja dengan kacamata yang berbeda. Sepuluh Prinsip Ekonomi merupakan sejumlah ide pokok yang mendasari ilmu tersebut. Dibagi ke dalam tiga bagian sesuai deskripsi wilayah kerja ekonom di atas, artikel ini dimulai dengan kelompok yang pertama, yaitu bagaimana orang mengambil keputusan. Di sini kita akan mengamati ekonomi dalam kacamata seorang individu pelaku ekonomi.

Prinsip I: Tiap orang menghadapi tarik-ulur (trade-off)

Tidak ada yang gratis di dunia ini, setuju? Ketika kita memilih sesuatu, sesuatu yang lain pasti kita korbankan. Pengorbanan ini bisa berupa waktu, uang, konsentrasi, apapun. Menulis blog membuat saya kehilangan waktu untuk mempersiapkan paper. Melanjutkan s2 berarti pengorbanan kesempatan bekerja dengan gaji yang layak. Contoh klasik adalah tarik-ulur antara “senjata dan mentega” (gun and butter). Semakin besar pengeluaran negara/pemerintah untuk membangun pertahanan (senjata), semakin sedikit sumber daya yang tersisa untuk memproduksi barang konsumsi (mentega) untuk meningkatkan standar hidup masyarakat. Begitu pula sebaliknya.

Prinsip II: Biaya (cost) adalah apa yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu

Terkadang kita melupakan pengertian biaya atau harga yang sebenarnya dari pilihan yang kita ambil. Konsep yang sering dilupakan adalah biaya kesempatan (opportunity cost), yaitu kesempatan yang hilang demi menjalankan suatu pilihan. Oleh karena itu, harga yang harus saya bayar untuk s2 bukan cuma biaya kuliah, buku, asrama, dan biaya hidup saja. Biaya kesempatan yang timbul akibat kehilangan kesempatan bekerja dengan gaji yang layak seharusnya ikut masuk pertimbangan. Terkadang, biaya kesempatan untuk melanjutkan kuliah bisa jadi teramat tinggi. Contohnya seorang pemain NBA, Le Bron James, yang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena menganggap ‘biaya kesempatan’ kuliah terlalu tinggi, dibanding ‘biaya kesempatan’ berkarier sebagai atlet profesional.

Prinsip III: Orang rasional berpikir pada marjin (margin)

Konsep orang rasional berarti seseorang akan melakukan yang terbaik untuk mencapai tujuan, sesuai kesempatan yang ada. Sementara marjin disebut juga sebagai garis tepi atau batas. Untuk memaksimalkan sesuatu (entah keuntungan bagi perusahaan atau kepuasan bagi rumahtangga), orang rasional akan selalu mempertimbangkan perubahan marjinal, perubahan yang terjadi karena perubahan kecil pada suatu aksi. Contoh, keuntungan marjinal adalah perubahan keuntungan yang kita dapatkan atas penjualan ekstra satu barang atau jasa. Secara umum, orang akan membandingkan manfaat marjinal dan biaya marjinal ketika menentukan keputusan. Pertanyaan klasik mengapa berlian jauh lebih mahal daripada air bisa Anda jawab menggunakan konsep manfaat marjinal.

Prinsip IV: Orang bereaksi terhadap insentif (incentive)

Insentif adalah sesuatu (seperti kemungkinan akan hadiah atau hukuman) yang bisa membujuk seseorang untuk bertindak. Dalam ilmu ekonomi, insentif merupakan hal yang sangat krusial. Pengetahuan mengenai insentif dan apa reaksi orang terhadap insentif tersebut sangat penting untuk mengetahui kerja dan gerakan pasar, juga bagi para pembuat kebijakan.

(Source: Gregory Mankiw, Principles of Economics 4th edition, 2007)

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : ” Aku tidak mengerti.”

Dengan kerut kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-Laki.” Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :”Ibu mengapa wajah Ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”

Ibunya menjawab: “Anakku, jika seorang Laki-Laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan Laki-Laki, aku membuatnya sebagai Pemimpin Keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan Keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar Keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. “

“Ku-ciptakan Bahunya yang Kekar & Berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh Keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh Keluarganya. “

“Ku-berikan Kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar Keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. “

“Ku-berikan Keperkasaan & Mental Baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi Keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi Keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi Keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”

“Ku-berikan Kesabaran, Ketekunan serta Keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing Keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. “

“Ku-berikan Perasaan Keras dan Gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi Keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”

“Ku-berikan Kebijaksanaan & Kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ku-berikan Kerutan diWajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-Laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-Laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. “

“Ku-berikan Kepada Laki-Laki Tanggung Jawab penuh sebagai Pemimpin Keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-Laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat.”

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. ” AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah…

With Love to All Father

Posted by: viczhoel | June 10, 2009

Pria yang semakin ditinggalkan Wanita

Apakah judul tulisan ini ambigu menurut Anda? Kalau iya, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maklum, masih belajar buat nulis. Baiklah, mari kita mulai.

Tulisan ini awalnya terinspirasi oleh sebuah artikel di blog Economix (semacam Kompasiana ala The New York Times) yang menunjukkan kecenderungan wanita mendapatkan gelar akademis lebih tinggi daripada para pria. Berdasarkan data dari Departemen Pendidikan US, pria dan wanita hanya imbang dalam perolehan gelar profesi. Selebihnya–diploma, sarjana, master, doktoral–wanita lah yang berkuasa. Percaya tidak percaya? Perhatikan grafik berikut:

Menurut Anda, ada apa di balik fakta yang mencengangkan ini? Rasio wanita-pria? Hm, menurut badan sensus US sih, perbedaan jumlah wanita dan pria ‘hanya’ 4 juta saja. Emansipasi wanita dan feminisme? Bisa jadi. Kebiasaan? Takdir? Mars dan Venus?

Artikel lain dari The Wall Street Journal memproklamirkan fenomena GLB alias Guys Left Behind (Perhatikan judul tulisan ini. Mirip, bukan?).  Mari kita tinjau sejumlah data yang dipaparkan dalam tulisan ini.

Satu, jumlah pria yang berada di balik kerangkeng besi hampir 15 kali jumlah wanita. Sepertinya terlihat lebih wajar, penjahat pria dibanding wanita. Betul tidak? Dua, kelebihan berat badan dan kecanduan minuman keras juga narkoba jauh lebih banyak diderita kaum pria. Menurut pendapat saya, begitu pula dengan jumlah perokok. Tiga, berbicara soal kematian, penyakit jantung lebih banyak memakan korban pria daripada wanita, hampir dua kali lipat. Kecelakaaan di jalan raya pun selalu merenggut lebih banyak nyawa pria. Seperti pada tahun 2007, dari 41ribu korban jiwa, 29ribu di antaranya adalah kaum pria.

Empat, USAToday melaporkan tingkat pengangguran untuk pria meningkat lebih tajam dibandingkan wanita pasca krisis finansial. Jika pada pra Desember 2007 tingkat pengangguran pria dan wanita relatif mirip (4.4% dan 4.3%), maka medio Desember 2008, pengangguran untuk pria meningkat hingga 7.2% sementara untuk wanita 5.9%. Sejumlah analisis memperkirakan bahwa hal ini terjadi akibat area pekerjaan wanita (misal kesehatan dan pendidikan) yang lebih baik daripada area pekerjaan pria (misal konstruksi dan manufaktur) dan banyaknya wanita yang berkeja paruh waktu.

Lima, pada akhirnya, wanita diperkirakan memiliki harapan hidup lima tahun lebih lama daripada pria, 80 tahun berbanding 75 tahun. Secara umum, kaum pria sudah tertinggal dalam kategori pendidikan, kesehatan, bahkan perkiraan hidup. Keunggulan kaum pria dalam kategori penghasilan pun semakin menipis, terutama di kalangan generasi muda.

Keadaan di atas menggambarkan kondisi AS, meskipun kecenderungan yang sama pun terlihat di berbagai belahan dunia yang lain. Menurut Anda, bagaimana dengan Indonesia?

Pengalaman saya pribadi semasa mahasiswa, duo ‘elit’ Elektro 2003 ITB adalah wanita. Padahal rasio wanita hanya 1/10 total mahasiswa. Saya jadi teringat celetukan Dr. Ellie Stadler di Jurassic Park, “Dinosaurs eat man, woman inherits the earth.” Perhaps the time for man’s ‘dinosaurs’ to show up is coming?

Last 4 days trip on Jeju Island was one of the best in my life, I dare to say. Despite of all messes happened, its pretty nice to feel the warmth and cheeriness of Indonesian people, plus the proud and happiness of representing our beautiful country and performing a tiny bit yet amazing culture of it.

There were 24 of us, coming from Seoul, Suwon and Busan, originated from various areas of Indonesia, who full-heartedly showed Pencak Silat, Dances of Saman, Baris Tunggal, Modern Melayu, Jaipong, Roro Ngigel, Mak Inang Pulau Kampai and the sensational Poco-Poco. The event named Jeju World Culture and Travel Expo, a side event of Korea-ASEAN Commemorative Summit. Other than those performances, Indonesia represented by ITOK (Indonesia Tourism Office in Korea) also has a chance to introduce itself to masses from other countries by running booths and providing information about Indonesia there. The visitors can also play congklak–Indonesian traditional game–there. For us, it was a huge success thanks to the hard work and love we have for Indonesia. Seeing the audiences struggling to imitate the dance moves on their own seats, inviting them to join our Poco-Poco dance, watching their satisfied smiles and laughs, hearing those hands clapping and waving, what a view!! We did make them happy and give them sweet memories of lively Indonesia.

Leaving the details of fun and stir, I just want to provoke all of you Indonesian people out there to say it loudly and confidently: I am Indonesian and proud to be one!!

Presiden SBY dan Ibu Negara disambut barisan putra putri Indonesia di Hotel Shilla Pulau Jeju, Korea Selatan, hari Minggu (31/5) sore. (foto: abror/presidensby.info)

Presiden SBY dan Ibu Negara disambut barisan putra putri Indonesia di Hotel Shilla Pulau Jeju, Korea Selatan, hari Minggu (31/5) sore. (foto: abror/presidensby.info)

-June 4th: adding above picture which is taken from here. Find me!!-

penghargaan

The Best Folklore Performance Award: When commoners subdue professionals, blame their spirit

-June 10th: adding above picture which is taken from here-

Kembali sebuah artikel pada blog freakonomics mengawali lahirnya artikel di blog ini.

Berkaitan dengan krisis finansial akhir-akhir ini, sejumlah pihak berpendapat bahwa tragedi kelam Depresi Besar akan terulang kembali. Price Fishback, seorang sejarawan ekonomi, mencoba melawan argumen tersebut dengan mengingatkan kembali betapa buruk Depresi Besar.

Pada 1920, ekonom Soviet Nikolai Kondratiev mengusulkan konsep economic super-cycle (perputaran super ekonomi) tiap 40-60 tahun. Mengingat Depresi Besar terjadi hampir 70 tahun yang lalu, mungkinkah kini saatnya terulang kembali? Peristiwa Depresi Besar diawali oleh jatuh bebasnya bursa saham New York pada Kamis Hitam, 24 Oktober 1929, yang berlanjut hingga Senin dan Selasa Kelam 28 dan 29 Oktober tahun yang sama. Dan kini, bursa saham AS pun mengalami kejatuhan hingga 40 persen dibandingkan nilai-tertinggi-sepanjang-masa nya di penghujung 2007.

Pertanda buruk? Meskipun hasil akhir resesi masih belum dapat diketahui, Fishback meyakini bahwa meskipun terdapat sejumlah persamaan di permukaan, situasi saat ini tidaklah seburuk situasi pada 1930an. Sejak awal resesi pada 2007 akhir, tingkat pengangguran bulanan AS telah meningkat dari 4.9 persen ke 7.6 persen pada Januari 2009. Sebelum mulai memikirkan Depresi Besar, perlu diingat bahwa tingkat pengangguran yang melebihi angka 7 persen telah terjadi  di AS selama 139 bulan sejak akhir Depresi Besar. Jumlah itu termasuk 32 bulan (1974-1977), 76 bulan (1980-1986) dan 21 bulan lain antara 1991 dan 1993.

Fakta Depresi Besar. Satu tahun setelah Kamis Hitam 1929, tingkat pengangguran meningkat dari 2 persen hingga 10.8 persen. Setahun kemudian? 16.8 persen. Tragedi berlanjut, tingkat pengangguran menembus angka 20 persen selama empat tahun berturut-turut! Lebih jauh lagi, tingkat pengangguran tetap bertahan di atas angka 14 persen sebelum akhirnya kembali di bawah 10 persen pada 1941.

Fakta lain tentang Real GDP (PDB Riil). Dibandingkan tahun 1929, AS memproduksi 8.6 persen lebih sedikit barang dan jasa di tahun 1930, pada 1931 15 persen lebih sedikit, dan pada 1932 dan 1933 26 persen lebih rendah dibanding 1929. PDB riil tahunan AS tidak mencapai tingkat 1929 kembali hingga 1936. Kita akui, keadaan ekonomi sedang bermasalah, akan tetapi permasalahan Depresi Besar jauh lebih besar beberapa kali lipat.

Penutup dari saya, tahukah Anda peristiwa apa yang menandai (atau menginisiasi?) berakhirnya Depresi Besar? Benar, Perang Dunia II.

Posted by: viczhoel | April 28, 2009

Links of Online Qur’an and Hadits

Dear Readers,

I’ve been in such an unproductive days. No new post in this blog as well as no decent work nor achievement in my real life. But this time, let me introduce you some links of online qur’an and hadits:

  1. Holy Quran in 25 Languages (http://quran.muxlim.com)
  2. Quran Books at Your Fingertips (http://www.quranflash.com)
  3. Kumpulan & Referensi Belajar Hadits (http://opi.110mb.com/haditsweb/index.htm)
  4. Pusat Dokumentasi Hadits Rasulullah SAW (http://ummulhadits.org)

I got these links from a mailing list. Great thanks to those who share them. And plese share yours, I will update the list based on your sincere feedback.

Posted by: viczhoel | April 8, 2009

PilPres Perpika–Pernyataan Calon, which is me

Assalamualaikum wr wb
Salam sejahtera rekan-rekan semua,

Sebelumnya saya mohon maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Seperti yang rekan-rekan (mungkin) sudah tahu, Mike dan saya dicalonkan menjadi calon presiden PERPIKA 2009-2010.
Saya sadar hanya sebagian kecil dari 300 warga Perpika yang mengenal saya. Demi Pilpres yang lebih baik, mari kenalan.. So, here we go…

Profil Singkat
Nama saya Zulfikar Yurnaidi, biasa dipanggil Fikar ato Zul. Selepas SMA di kampung halaman, Kebumen, saya meneruskan studi di ITB jurusan Teknik Elektro. Itu terjadi pada tahun 2003. Bergelut dengan kampus selama 4,5 tahun memberikan banyak warna dan pembelajaran dalam hidup saya sehingga membentuk Fikar yang sekarang ini. Maret 2008, saya wisuda. April 2008, saya mendapat kesempatan mengikuti Invitation Program dari Universitas Ajou di Korea Selatan. Meskipun tidak sempat menikmati bunga sakura yang telah gugur 2 minggu sebelum kedatangan saya, pertemuan dengan Ajou-ers (sebutan bagi warga Perpika asal Ajou) membuat saya merasa aman dan nyaman di negeri ginseng ini. Kursus bahasa Korea ala Sparta selama 4 bulan pun selesai. Babak baru kembali menanti. Fall 2008, dengan beasiswa pas-pasan saya melanjutkan studi saya di Universitas Ajou, tepatnya Departemen Sistem Energi Lab Pemodelan Energi. Sampai kapan, hanya Tuhan yang tahu.

Pencalonan Presiden PERPIKA
2 orang. Ya, dengan bermodalkan dukungan dua suara saya maju menjadi calon presiden Perpika. Jujur, saya selalu merasa rikuh jika ada seseorang yang percaya dengan saya. Karena kepercayaan itu berat. Meskipun demikian, diskusi dengan berbagai pihak meyakinkan saya akan dua hal: pertama, kepercayaan memang berat, tetapi manfaatnya pun besar. Dan kedua, betapa besar manfaat yang bisa saya dapat dan berikan melalui Perpika. Dan bismillah, saya pun maju.

PERPIKA yang Besar dan Multifungsi
Perpika bagi saya adalah organisasi yang besar dan multifungsi. Di satu sisi, Perpika berusaha menjadi tempat ngumpul mahasiswa Indonesia yang sama-sama kangen kampung halaman. Di sisi lain, Perpika adalah partner berbagai entitas warga Indonesia di Korea, seperti pekerja dan pemerintah (KBRI). Di sisi yang lain lagi, Perpika diharapkan menjadi organisasi keprofesian mengingat warganya yang orang-orang pintar. Itu pun belum semua. Tapi cukuplah untuk sementara.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh Perpika ke depannya?

Pertama, fungsi kekeluargaan. Bagaimana pun juga, fungsi ini tetap menjadi tulang punggung Perpika. Kesibukan sebagai  mahasiswa, peneliti, dan pengajar membuat warga Perpika membutuhkan wadah untuk melepas lelah. Di sinilah Perpika menjalankan fungsinya. Bagaimana caranya menyatukan berbagai kelompok-kelompok main yang ada ke dalam suatu wadah Perpika sebagai keluarga. Satu hal yang ingin saya tekankan kembali adalah pentingnya pendataan anggota Perpika. Dengan begitu, proses saling mengenal dapat dipermudah.  Pun ketika Perpika memiliki gawe, database yang baik akan mempermudah penjaringan massa dan jaringan komunikasi.

Kedua, fungsi partnership. Berbagai manfaat bisa didapat dengan adanya kerja sama Perpika dengan berbagai pihak. Dalam menjalankan fungsi ini, Perpika diharapkan bertindak aktif dalam artian menginisiasi kerja sama tersebut dengan posisi tawar yang tinggi. Ke depannya diharapkan fungsi kerja sama ini dapat berkembang dengan berbagai pihak lain seperti PPI se-dunia atau institusi-institusi Korea sembari menjaga hubungan baik yang telah ada.

Ketiga, fungsi keprofesian. Bisa dibilang, fungsi ini lah yang menuntut Perpika untuk berkontribusi. Selama ini, fungsi ini menemukan bentuknya dalam dua acara besar Perpika, CISAK dan Seminar Kewirausahaan. Ke depannya, fungsi ini perlu digalakkan kembali. Hal ini dirasa perlu demi menumbuhkan keinginan berbagi dan berdiskusi dalam konteks keilmuan. Tujuan akhirnya, kontribusi.

Jujur, saya belum mengenal Perpika dengan cukup mendalam. Saya rasa demikian pula sebagian besar warga nya. Siapapun yang terpilih nanti, presiden Perpika yang baru–menurut saya–harus menjadi orang yang paling mengenal Perpika. Caranya, berdiskusi dengan sesepuh Perpika termasuk pengurus sebelumnya. Diskusi ini akan memberikan pembelajaran lebih bagi pengurus Perpika yang baru dalam merumuskan langkah kebijakan Perpika satu tahun ke depan. Demi Perpika yang lebih baik.

Akhir kata, maafkanlah diri ini yang tak bisa banyak berkata. Bagaimana pun juga, pemimpin bukanlah orang yang beretorika, tetapi orang yang berbuat dan rela berkorban.

Wassalamualaikum wr wb

Older Posts »

Categories